Selasa, 27 Desember 2011

Cara Menghadapi Suami Yang Temperamen

Bismillahirr Rahmanirr Rahim ...

Pernikahan adalah tahapan hubungan yang paling rumit dari semua hubungan asmara, namun di sisi lain pernikahan juga hubungan yang saling melengkapi satu sama lain. Ketika sepasang kekasih menikah, mereka cenderung berpikir bahwa pernikahan adalah jalan untuk mempersatukan dua insan berbeda. Sejalan dengan pernikahan tersebut, permasalahan yang dihadapi lambat laun akan teratasi.

Sebenarnya bukan pernikahan yang membuat satu sama lain saling memperbaiki hubungan dan melengkapi. Terlebih kemauan dari kedua belah pihaklah yang membuat hubungan semakin baik.

Namun bagaimana jika suami Anda temperamen? Ada beberapa orang yang bilang, sifat temperamennya akan hilang jika ia sudah menikah. Kenyataannya sampai Anda berumah tangga pun masih saja ia sering marah-marah tidak jelas.

Jadi, gimana sih cara menghadapi suami temperamen yang sangat Anda cintai itu?

1. Berhenti merajuk
Rajukan adalah suatu hal yang sangat menyebalkan bagi tipe suami temperamen. Ada kalanya memang sebagai sosok wanita sangat ingin dimanja, tetapi pria macam ini akan sangat jengkel dan mudah emosi jika melihat Anda merajuk.

Tips: tunjukkan sikap bahwa Anda adalah sosok mandiri yang kuat. Coba cari celah untuk bermanja-manja dengannya. Mungkin Anda bisa bertanya pada dirinya sikap nyaman yang mana yang membuat si dia ingin selalu memanjakan Anda. Dialog dengan kepala dingin akan membuat si dia bahagia dan merasa dihormati sebagai sosok pemimpin keluarga.

2. Positif thinking!
Normalnya jika si dia mulai marah tanpa alasan dan mulai merembet ke mana-mana Anda akan terpancing pula. Namun tetaplah berpikir positif. Ia butuh waktu untuk berpikir dari sisi Anda dan dia. Ia memang harus belajar mengendalikan emosinya, namun emosi tidak bisa dibalas dengan emosi.

Tips: dekati dia dan belai dengan sentuhan lembut tangan Anda ketika emosi dia mulai naik. Tunjukkan bahwa Anda mengerti dan memahaminya. Jangan balas dengan cercaan pertanyaan dan emosi yang meninggi pula. Kontak fisik, akan membantunya merasa lebih tenang. Belai punggungnya perlahan dari atas ke bawah, ini akan membuatnya lebih tenang.

3. Momen kebersamaan
Susun kegiatan bersama yang menyenangkan setiap weekend. Bukan hanya liburan bersama yang akan menjadi rutinitas, namun sebuah momen di mana kebersamaan adalah yang paling penting di dalamnya. Semakin dekat Anda dan dia, semakin mudah pula memahami dan menyelami perasaannya.

Kunci yang harus selalu Anda pegang adalah: kesabaran. Seseorang memang bisa berubah, namun butuh waktu yang cukup lama karena ia masih harus belajar beberapa hal untuk menyesuaikan diri. Jadi, jika suami Anda temperamen, jangan terburu meninggalkannya dan mengucapkan kata “cerai”.

People’s change, and you can change them (Sumber Sorce : doktertomi.com)

****

Renungan :

Jika seorang pria tulus mencintai wanita tentu sang pria berharap sang wanita selalu selamat dan tidak mungkin sang pria secara sengaja mencelakakan wanita.

Kecuali jika sebenarnya hanyalah nafsu yang berkedok cinta maka bisa saja si pria tidak peduli dengan keselamatan wanita asalkan hasratnya terpenuhi, dia tak peduli apakah si wanita akan celaka atau tidak, yg penting dirinya senang.

Inilah hakekat pacaran, para pria yg memacari wanita sebenarnya cintanya tidak tulus, yang ada sebenarnya hanyalah nafsu dan hasrat pribadi, bukan cinta. BUKTINYA dia tidak peduli jika wanita yang dipacarinya celaka dan masuk neraka, asalkan dirinya bisa bersenang-senang dengan wanita tersebut, jadi sudah jelas cintanya itu palsu, sebenarnya hanya nafsu saja.

Barangsiapa mencium pacarnya, berarti cintanya palsu, sebab yang dicari hanyalah kesenangan pribadinya, karena dia tidak peduli jika yang dicium itu celaka, sebab ciuman adalah zina ringan yang termasuk dosa. Dan dosa bisa mengantar kekasihnya itu ke neraka.

Jika cinta kita tulus tentu kita tidak tega berbuat sengaja untuk mencelakakan kekasih, tidak mungkin tega mendorong kekasih ke tengah jalan raya agar ditabrak kendaraan-kendaraan yang lewat. Tidak mungkin tega membakar dengan api orang yang kita cintai. Lantas kenapa kita tega memasukkan orang-orang yang kita cintai ke dalam api neraka?? Renungkanlah wahai yang masih punya hati… !!! Dan berbuat maksiat dengan pacar sama saja mencelakakan pacar itu dengan dosa yang bisa berujung siksaan di neraka di akherat.

Karena itu jika cinta kita tulus tentu kita tidak akan lama-lama berpacaran tetapi secepat mungkin menikahinya sehingga semua yang kita lakukan kepadanya menjadi halal, sehingga tidak mencelakakan kekasih kita dengan api neraka. Dan saat berpacaran pun kita tidak boleh berbuat macam-macam kepada sang pacar, apalagi sampai berzina, agar tidak mencelakakan pacar kita dalam api neraka.

Orang-orang yang berpacaran hanyalah orang-orang pengecut yang berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab, dan cinta mereka palsu karena tega menjerumuskan pacarnya kedalam api neraka, kenapa mereka tidak kasihan dengan pacarnya?? Atau beginikah jika nafsu telah mengalahkan logika?

Besar kecilnya dosa berpacaran sebanding dengan banyak sedikitnya aktivitas maksiat dan zina yang dilakukan selama berpacaran.

Pesan buat yang masih pacaran: jangan mencium, jangan menyentuh pacar, jangan berduaan ditempat sepi, jangan berzina, jangan berbuat maksiat dengan pacar, dan segeralah menikah

karena itu… Kalau Engkau Memang Jantan, Segera Nikahilah Aku !! (jangan cuma mengajak berpacaran !!!!!!)

By : Strawberry facebook Note
Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar